Kamis, 14 Februari 2013

lekak-lekuk pena-...


Mendung di Langit Hatiku
Mendung di langit hatiku                                             By: Nahdiatul Husna
Awan-awan bergantungan di atmosfer kelabu
Kenapa harus begini    
Awan itu terus membayangi
Dan rona sunyi bergelayut di kolong langit senja
Meski angin barat genit menggoda-goda
Tak hendak beranjak ia
--Benci! Aku benci!
Dan aku tak mau bertanya kembali
Mengapa harus benci
Mengapa dan mengapa, lagi-lagi mengapa
Aaah . . . jemu juga menggugat debu
--Mendung di langit hatiku
Awan-awan bergantungan di atmosfer kelabu
Ku hembus-hembus ia agar berlalu
Tapi badai malah mengancamku di kaki langit itu, oh tidak…!
--Hampa ini terasa merasuk
Aku begitu sendiri
Entah kenapa kau yang ku harap hadir kini
Tak ku sangka kau malah mengekalkan sepi
Enggan menyapa meski hanya satu sepoi angin saja
Ku rasa akupun tak mau,
kau harus tau itu
--Mendung di langit hatiku
Awan-awan bergantungan di atmosfer kelabu

Amuntai, 11 Februari 2012

Senin, 04 Februari 2013

lekak-lekuk pena-puisi 'Tertawalah'


Tertawalah
Tertawa
Ia bagaikan penawar segala
Ia penawar dari pekatnya nestapa
Penawar resah
Penawar gundah
Tertawa
Ia akan mendekorasikan warna-warni
Tertawalah dengan tawa yang lepas
Dukamu hilang tak membekas
Belenggumu akan patah
Hatimu akan kembali cerah
Tertawalah..
Enyahkan semua yang membuat bahagiamu terpenjara
Bebaskan segala
Terbangkan ke angkasa
Jangan biarkan sedihmu mendungkan hari
Tawamu kan membuatnya berseri
Tertawalah.. sedikit saja
Setidaknya dengan senyummu badai takkan tercipta
Angin sepoi hanya akan datang menyapa
Dan nanti akan membuncahkan bahagia
Tawamu.. senyummu
Kan ku tunggu selalu

Banjarmasin, Kamis, 6 Desember 2012