Rabu, 16 Oktober 2013

lekak-lekuk pena- Di Payung Tarbiyah

Di Payung Tarbiyah

Sengat mentari terasa sekali
Wajah-wajah lelah berserakan
Kenapa?
Mungkin ada secarik luka di lubuk hati
Ada segumpal gundah di denyut nadi
Setumpuk tugas kuliah esok hari
Atau cemberut marah pada si dia pagi tadi
Aha….
Di payung tarbiyah
Ada cerita-cerita
Ada kelu-kelu yang tak terkata
Ada kata yang duduk bertopang dagu
Merobek sunyi, hanya ada tarik hembus nafas
Dan dua alis bertaut tak mengerti
Canda itu dusta saja

Menyebalkan
Tanyaku menggantung
Marah atau tangis pilu yang ada
Dan payung diam saja 
Bangku kosong tak berpenghuni

Jumat, 27 September 2013,, 10:19 AM

lekak-lekuk pena- Prosa Rindu


Prosa Rindu
Di penghujung musim
Masih kurasakan rinai hujan
Pada hari yang tak bernama
Ku rayu tuk bawakanku bunga
Karena dia yang  entah dimana

Hari ini bertambah satu warna
Yang tergores pada kanvasku yang dihadiahkan masa
Merah muda, jingga, dan ungu
Menunggu jam mendetakkan rasaku
Itu sendu

Ya, ada  senyumku dalam abjad kata
Tau kah dia ada tangis yang terselip di sana?
Ingat, meski ku desak agar terlempar ke ujung benua
Ia ada
Dan duniaku terus memetakan lekuk wajahnya

Di penghujung musim
Masih kurasakan rinai hujan
Pada setiap tetesan
Ada secawan rindu yang ku bisikkan
Rindu, ia ada meski kalimatku habis di ujung jalan
…Banjarmasin, 24 September 2013, 12:31 AM

lekak-lekuk pena- Epesode Elegi


Epesode Elegi
Apa memang begitu
Tolong jangan..
Aku tak tau kenapa
Begitu, ya.. kenapa begitu
Tak ada kah yang lain
Kenapa harus itu
Udara di sini menyesak begitu saja
Tolong beri alasan
Alasan yang mungkin masuk di akal polosku

Meleleh tanpa ku sadari, tak bisa aku tahan lagi
Lelah terasa
Sia-sia menahan air menetes dari jemari
Jika saatnya tiba, masih adakah jawaban yang pasti
Yang ada hanya lubang-lubang pencucur resah
Jalanku terlalu bertajam kerikil,
Berbadai hujan yang mengguyur kuyu
Ternyata belum sempurna gigihku
Aku ringkih dibuatnya

Jangan diadakan, karena aku akan roboh
Banjarmasin, Mei 2012

lekak-lekuk pena- Tangis Anak Palestina


Tangis Anak Palestina


Di serpihan hitam arang
Di reruntuhan gedung tua
Ku sayupkan duka penuh lara
Sekarang aku sebatang rapuh
Yang membangunkan Abi
Memanggil Umi
Tapi tak bisa, mereka melambaikan tangan di pelupuk mata
Menyematkan kata, selamat tinggal buat selama
Oh Abi.. wahai Umi
Mereka telah merenggut tawaku
Melumatkan riang senyumku
Dengan desing peluru
Dengan gemuruh rudal angkuh berseru
Abi.. Umi…
Katakan pada mereka, kembalikan hari-hariku
Yang dilingkup wangi damai penuh cinta
Hari tanpa kucur darah, belenggu takut dan air mata
Kini, aku sebatang rapuh
Yang mendamba atmosfer cinta
Untuk damai bumiku
Bumi Palestina 

nahdiatul husna,,,,
Amuntai, 15 Januari 2009

lekak-lekuk pena- Refleksi


Refleksi
Rangkuman kisahku
Tersalin dalam waktu
Menggoreskan buih-buih mengambang
Bergoyang ayun mengiring ombak
Ku tengok lampau alur
Pada helai yang berbalut warna
Penuh noda di riak fatamorgana
Di genap jemu derikan rel
Ku singgahkan letih
Tambatkan di terminal peristirahatan
Telah banyak yang ku lalui
Manis pahit pun ku kecap
Hitam, putih, jingga dengan cinta
Dan semua meninggalkan rasa
Sebelas februari
Ku refleksikan diri
Dengan bayang dan cahaya
Menjadi sefitrah bayi
Kaffahkan hati
Ku tapak jalan baru
Dan aku ingin, sedang dan akan sempurnakan metamorfosisku
Memori bertabur cinta kan terajut penuh makna
Amuntai, 11 Februari 2009