Lekak-lekuk Penaku
Bercerita
Inilah lekak-lekuk penaku
Ia akan bertutur ketika lidahku
membisu
Dengan beribu bahasa ia
mengungkapkan
Vokal yang fasih tiada bandingan
Lekak-lekuk penaku telah
bercerita
Tentang anak kecil kehilangan
layang-layang
Ia tak mencari, hanya sebuah
tangisan
Berharap bayang-bayang kembali ke
tangan
Sudah juga kan lekak penaku
menceritakan
Tentang remaja yang kasmaran
Si buruk rupa di matanya tak
seorang raja rupawan
Mungkn kau berkomentar, “ah… wong
edan”
Penaku sepertinya tidak ketinggalan
Mencicil cerita tentang sengitnya
perseteruan
Si buaya loba dan cicak buntung
Lekuk penaku mengukir harap
Semoga bom waktu belum berdetak
Penaku masih melekukkan abjad, kawan...
Ia menjemput kata yang tersesat di tenggorokan
Ia menumpahkan rasa yang terjebak di relung jiwa
Ia mengumpulkan kisah yang meruap entah ke mana
Penaku tergenggam di tangan
Ia masih bercerita penuh cinta
Tentang sunyi yang mengagumkan
Tentang kepak sayap burung di udara petang
Tentang bunga sakura yang mekar di ujung musim dingin
Dan tentang elegi di gubuk bambu si nenek tua
Yang mengusap-usap lara di pipi keriputnya
Ketika bercerita, ingin terus bercerita
Akan ku lekuk-lekukkan pena
--00.23 AM
Nahdiatul Husna
Amuntai, 28 Oktober 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar